Jakarta, 2 September 2026 – Dunia olahraga kerap melahirkan sosok yang memiliki kemampuan luar biasa di arena pertandingan. Namun, beberapa atlet perempuan tidak hanya mengukir prestasi melalui olahraga, tetapi juga menjalani kehidupan akademik dan penelitian di bidang sains. Mereka harus membagi waktu antara latihan intensif, kompetisi tingkat dunia, pendidikan tinggi, hingga kegiatan penelitian. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa prestasi di lapangan dan kecemerlangan akademik dapat berjalan beriringan.
Berikut lima atlet perempuan yang pernah tampil di panggung Olimpiade sekaligus memiliki latar belakang kuat di dunia sains.
1. Anna Kiesenhofer – Austria
Nama Anna Kiesenhofer menjadi salah satu yang paling mengejutkan pada Olimpiade Tokyo 2020. Pebalap sepeda Austria tersebut berhasil merebut medali emas nomor balap jalan raya putri meski tidak masuk daftar unggulan juara. Kiesenhofer bahkan berlomba tanpa pelatih khusus dan tanpa dukungan struktur tim profesional seperti yang dimiliki sejumlah pesaingnya. Ia mampu mempertahankan keunggulan hingga finis dan meninggalkan juara dunia saat itu, Annemiek van Vleuten, cukup jauh. Van Vleuten bahkan sempat mengira dirinya telah memenangkan perlombaan sebelum mengetahui bahwa Kiesenhofer sudah lebih dahulu mencapai garis finis.
Di luar dunia balap sepeda, Kiesenhofer dikenal sebagai ahli matematika. Ia memiliki latar belakang pendidikan matematika dari Technical University of Vienna dan University of Cambridge. Setelah itu, ia menjalani aktivitas akademik sebagai peneliti dan pengajar di Swiss. Kombinasi antara kemampuan analitis sebagai matematikawan dan ketangguhannya sebagai atlet membuat kisah Kiesenhofer menjadi salah satu yang paling unik dalam sejarah Olimpiade.
2. Hadia Hosny – Mesir
Hadia Hosny merupakan atlet bulutangkis Mesir yang juga memiliki perjalanan akademik yang tidak kalah mengesankan. Ia tampil di Olimpiade Tokyo dan pada saat yang sama dikenal sebagai akademisi di bidang ilmu biomedis dan farmakologi. Hosny meraih gelar master biomedis dari University of Bath di Inggris dan kemudian menyelesaikan doktoral bidang farmakologi di Cairo University. Ia juga menjalani pekerjaan sebagai asisten profesor di British University in Egypt.
Penelitiannya mencakup dexamethasone, obat antiinflamasi yang digunakan dalam berbagai kondisi medis. Dengan latar belakang tersebut, kehidupan Hosny tidak berhenti di arena olahraga karena ia juga menjalani aktivitas penelitian dan akademik. Ia bahkan memiliki kesibukan lain sebagai anggota parlemen Mesir.
3. Gabby Thomas – Amerika Serikat
Gabby Thomas menjadi contoh lain bagaimana seorang atlet elite dapat menekuni dunia sains secara serius. Sprinter Amerika Serikat itu meraih medali perunggu nomor 200 meter pada Olimpiade Tokyo 2020. Di luar lintasan, Thomas memiliki latar pendidikan neurobiologi dan kesehatan global yang ditempuh di Harvard University. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di University of Texas, Austin, dalam bidang epidemiologi dan manajemen kesehatan.
Ketertarikannya pada dunia kesehatan tidak berhenti pada pendidikan formal. Thomas memiliki perhatian terhadap persoalan ketimpangan dalam akses layanan kesehatan di Amerika Serikat, khususnya yang berkaitan dengan faktor rasial. Kariernya kemudian berkembang menjadi perpaduan antara olahraga elite dan perhatian terhadap isu kesehatan masyarakat.
4. Charlotte Hym – Prancis
Charlotte Hym memilih skateboard sebagai jalur untuk berkompetisi di panggung Olimpiade. Ia tampil dalam Olimpiade Tokyo 2020 ketika skateboard untuk pertama kalinya dipertandingkan dalam pesta olahraga tersebut. Meski tidak berhasil melaju ke babak final, kehadirannya tetap menjadi bagian dari sejarah cabang olahraga baru di Olimpiade.
Menariknya, Hym memiliki gelar doktor di bidang ilmu saraf. Ia menjalani penelitian mengenai pengaruh suara ibu terhadap perkembangan kemampuan motorik bayi yang baru lahir. Artinya, aktivitasnya sebagai skateboarder harus berjalan berdampingan dengan kegiatan akademik dan penelitian yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
5. Louise Shanahan – Irlandia
Louise Shanahan merupakan pelari Irlandia yang tampil pada nomor 800 meter di Olimpiade Tokyo. Tiket menuju Olimpiade tersebut sebenarnya datang lebih cepat dari perkiraan karena sebelumnya ia membayangkan baru bisa tampil di Paris 2024. Meski tidak berhasil melewati babak penyisihan di Tokyo, Shanahan tetap memiliki kisah menarik karena kehidupannya di luar lintasan sangat dekat dengan dunia sains.
Shanahan merupakan lulusan University College Cork dan kemudian menempuh program doktoral di University of Cambridge. Fokus akademiknya berada pada fisika kuantum dan fisika medis. Salah satu bidang yang dipelajarinya berkaitan dengan pengembangan perangkat yang berpotensi membantu diagnosis serta perawatan kanker. Dengan demikian, Shanahan harus menjalani dua dunia yang sama-sama menuntut ketekunan, yakni menjadi atlet lari sekaligus peneliti di bidang fisika.
Kelima sosok tersebut memperlihatkan bahwa prestasi seorang atlet tidak selalu berhenti ketika pertandingan selesai. Anna Kiesenhofer mengejutkan dunia dengan emas Olimpiade sekaligus kiprahnya sebagai matematikawan, sementara Hadia Hosny, Gabby Thomas, Charlotte Hym, dan Louise Shanahan menempuh jalur akademik di bidang kesehatan, ilmu saraf hingga fisika. Mereka membuktikan bahwa kemampuan fisik dan kecerdasan akademik dapat berkembang secara bersamaan. Kisah mereka juga menjadi gambaran bahwa dunia olahraga dan ilmu pengetahuan tidak harus berjalan di jalur yang terpisah.




