Jakarta, 5 September 2026 – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan penyakit jantung masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi masyarakat Indonesia dan menempati posisi kedua sebagai penyebab kematian setelah stroke. Tingginya angka kematian tersebut mendorong pemerintah memperkuat strategi pencegahan melalui deteksi dini terhadap faktor risiko sebelum berkembang menjadi penyakit serius. Budi menilai banyak kasus jantung sebenarnya dapat dicegah atau ditunda apabila tekanan darah, gula darah, dan kadar kolesterol masyarakat dikendalikan sejak dini. Pemerintah karena itu semakin mengarahkan sistem kesehatan dari pendekatan yang berfokus pada pengobatan menuju promotif dan preventif. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari target meningkatkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia. Pencegahan dinilai jauh lebih efektif dibandingkan menunggu pasien mengalami serangan jantung dan membutuhkan tindakan medis kompleks.
Budi sebelumnya menjelaskan empat kelompok penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di Indonesia adalah stroke, penyakit jantung, kanker, dan penyakit ginjal. Stroke berada pada posisi pertama, kemudian disusul penyakit jantung, kanker, serta gangguan ginjal. Stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal bahkan disebut berkontribusi terhadap sekitar 750 ribu kematian setiap tahun. Sebagian penyakit tersebut mempunyai faktor risiko yang saling berkaitan sehingga pencegahannya dapat dilakukan melalui pendekatan yang hampir serupa. Hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik menjadi sejumlah faktor yang perlu mendapat perhatian. Masyarakat diminta tidak menunggu munculnya gejala karena penyakit kardiovaskular dapat berkembang tanpa keluhan yang jelas pada tahap awal.
Salah satu perhatian utama Kementerian Kesehatan adalah tingginya jumlah masyarakat dengan tekanan darah di atas batas normal. Hipertensi sering tidak menimbulkan gejala sehingga seseorang dapat merasa sehat meskipun tekanan darahnya sudah tinggi selama bertahun-tahun. Apabila tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, serta gangguan ginjal. Pemerintah mendorong masyarakat memeriksa tekanan darah secara rutin dan menjalani pengobatan apabila ditemukan hipertensi. Kepatuhan mengonsumsi obat juga penting karena sebagian pasien menghentikan pengobatan ketika merasa kondisinya sudah membaik. Padahal, pengendalian tekanan darah harus dilakukan secara konsisten untuk mengurangi risiko komplikasi jangka panjang.
Selain tekanan darah, kadar gula dan kolesterol menjadi dua indikator penting yang harus dipantau. Gula darah yang terus berada pada tingkat tinggi dapat merusak pembuluh darah serta meningkatkan risiko penyakit jantung pada penderita diabetes. Sementara kadar kolesterol yang tidak terkendali dapat memicu pembentukan plak pada dinding pembuluh darah dan menghambat aliran darah menuju jantung. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi penyakit jantung koroner dan dalam keadaan tertentu menyebabkan serangan jantung. Pemeriksaan rutin memungkinkan faktor risiko ditemukan sebelum menimbulkan kerusakan yang lebih berat. Karena itu, pemerintah terus memperluas skrining kesehatan agar masyarakat dapat mengetahui kondisi tubuhnya lebih awal.
Program Cek Kesehatan Gratis menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk memperkuat pendekatan tersebut. Program ini diarahkan untuk menjangkau masyarakat dalam jumlah besar, mulai dari bayi baru lahir hingga kelompok lanjut usia. Pemeriksaan tidak hanya bertujuan menemukan penyakit, tetapi juga mendeteksi faktor risiko yang dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup maupun intervensi medis. Pada 2026, pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi karena ketiganya berkaitan erat dengan penyakit jantung, stroke, serta gagal ginjal. Hasil pemeriksaan diharapkan dapat segera ditindaklanjuti melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama. Dengan mekanisme tersebut, masyarakat yang terlihat sehat tetap mempunyai kesempatan mengetahui risiko penyakit lebih dini.
Kementerian Kesehatan juga memperluas kemampuan rumah sakit dalam menangani serangan jantung. Ketika Budi mulai menjabat sebagai Menteri Kesehatan, hanya sekitar 43 dari 514 kabupaten dan kota yang memiliki kemampuan memberikan layanan intervensi koroner perkutan atau PCI. Jumlah daerah dengan kemampuan tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 151 kabupaten dan kota pada pertengahan 2026. Pemerintah menargetkan sekitar 200 daerah dapat memberikan layanan tersebut pada tahun ini. Selanjutnya, kemampuan penanganan penyakit jantung ditargetkan semakin merata hingga seluruh Indonesia pada akhir 2027. Pemerataan diperlukan karena kecepatan penanganan sangat menentukan peluang keselamatan pasien ketika mengalami serangan jantung.
Layanan PCI memungkinkan dokter membuka pembuluh darah koroner yang mengalami penyumbatan, termasuk melalui pemasangan stent atau ring jantung. Pada kondisi serangan jantung akut, waktu menjadi faktor sangat penting karena semakin lama aliran darah menuju otot jantung terhambat, semakin besar kerusakan yang dapat terjadi. Persoalan geografis sebelumnya membuat sebagian pasien harus melakukan perjalanan panjang menuju rumah sakit yang mempunyai fasilitas cath lab. Situasi tersebut dapat mengurangi peluang pasien memperoleh tindakan dalam waktu optimal. Pemerintah karena itu melengkapi rumah sakit dengan fasilitas dan peralatan yang diperlukan sekaligus meningkatkan ketersediaan tenaga spesialis. Pemerataan layanan diharapkan mengurangi kesenjangan penanganan antara kota besar dan daerah.
Tantangan penanganan penyakit jantung tidak hanya berkaitan dengan fasilitas, tetapi juga ketersediaan dokter dan tenaga kesehatan terlatih. Peralatan seperti cath lab tidak dapat memberikan manfaat maksimal apabila rumah sakit tidak mempunyai dokter spesialis yang mampu melakukan tindakan. Pemerintah kemudian mendorong peningkatan jumlah dokter spesialis jantung serta memperluas pendidikan berbasis rumah sakit. Distribusi tenaga medis juga menjadi perhatian agar dokter tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar. Penguatan kemampuan rumah sakit daerah diharapkan membuat masyarakat memperoleh layanan lebih dekat dengan tempat tinggalnya. Langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi layanan rujukan yang sedang dijalankan pemerintah.
Di sisi lain, pemerintah menekankan bahwa peningkatan kapasitas rumah sakit tidak boleh membuat masyarakat mengabaikan pencegahan. Pola makan tinggi gula, garam dan lemak, kebiasaan merokok, kurang bergerak, serta kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Aktivitas fisik secara rutin, menjaga berat badan, mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, dan menghindari rokok menjadi langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar. Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga diperlukan meskipun seseorang tidak mempunyai keluhan. Faktor risiko yang ditemukan lebih awal umumnya lebih mudah dikendalikan dibandingkan ketika telah berkembang menjadi komplikasi. Pencegahan sejak usia muda menjadi semakin penting karena hipertensi, diabetes, dan obesitas kini juga ditemukan pada kelompok usia produktif.
Pemerintah menargetkan peningkatan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari sekitar 72 tahun menjadi 76 tahun dengan menekan kematian akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Penyakit jantung menjadi salah satu fokus karena besarnya dampak terhadap keselamatan masyarakat sekaligus pembiayaan kesehatan nasional. Strategi yang dijalankan mencakup skrining, pengendalian faktor risiko, peningkatan kesadaran hidup sehat, pemerataan cath lab, serta penambahan dokter spesialis. Masyarakat diharapkan memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan dan tidak menunggu munculnya serangan sebelum mengetahui kondisi jantungnya. Pengendalian tekanan darah, gula darah, dan kolesterol menjadi langkah utama yang dapat dilakukan sejak sekarang. Dengan pencegahan yang lebih kuat dan akses pengobatan yang semakin merata, angka kematian akibat penyakit jantung diharapkan dapat ditekan secara bertahap.





