Jakarta, 31 Agustus 2026 – PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatatkan kinerja positif sepanjang semester I 2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp1,9 triliun. Capaian tersebut tumbuh sekitar 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas di tengah dinamika bisnis infrastruktur. Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan usaha serta peningkatan aktivitas lalu lintas di jaringan jalan tol yang dikelola perseroan. Hingga paruh pertama tahun ini, Jasa Marga juga terus memperkuat operasional, pengembangan jaringan, dan kualitas layanan kepada pengguna jalan. Hasil tersebut menjadi salah satu indikator bahwa bisnis inti perseroan masih mampu memberikan kontribusi kuat terhadap kinerja keuangan secara keseluruhan.
Pendapatan usaha Jasa Marga pada enam bulan pertama 2026 tercatat mencapai Rp10,3 triliun, meningkat 7,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan tersebut terutama berasal dari bisnis jalan tol yang menjadi sumber utama kegiatan usaha perseroan. Pendapatan tol mencapai sekitar Rp9,5 triliun atau tumbuh 6,8 persen secara tahunan. Selain itu, pendapatan usaha lainnya juga menunjukkan peningkatan signifikan hingga mencapai Rp798,2 miliar atau tumbuh 17,6 persen. Pertumbuhan pada sejumlah komponen pendapatan tersebut membantu perseroan mempertahankan kinerja positif meskipun terdapat perubahan kontribusi dari beberapa lini usaha.
Peningkatan aktivitas lalu lintas menjadi salah satu faktor yang mendukung kinerja bisnis utama Jasa Marga. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, volume transaksi tol tercatat mencapai sekitar 647,5 juta kendaraan atau meningkat 1,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan jaringan jalan tol tetap memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi barang. Semakin tingginya volume kendaraan juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan dari bisnis konsesi jalan tol. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi perseroan untuk terus mengoptimalkan pengelolaan ruas yang telah beroperasi sekaligus menyiapkan pengembangan jaringan baru.
Kinerja operasional yang membaik turut tercermin dari peningkatan EBITDA Jasa Marga. Perseroan mencatat EBITDA sebesar Rp7 triliun pada semester I 2026 atau tumbuh 8,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Margin EBITDA berada di level 67,8 persen, yang menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga efisiensi operasional sekaligus menghasilkan arus kas dari kegiatan usaha. Penguatan EBITDA menjadi faktor penting karena industri jalan tol membutuhkan pembiayaan besar untuk pembangunan, pemeliharaan, serta pengembangan jaringan dalam jangka panjang. Dengan kemampuan menghasilkan arus kas yang relatif kuat, perseroan memiliki ruang untuk memenuhi kewajiban finansial sekaligus mendukung agenda investasi secara berkelanjutan.
Sejumlah ruas tol memberikan kontribusi penting terhadap pendapatan perseroan selama periode tersebut. Jalan Tol Jakarta-Cikampek menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan pendapatan sekitar Rp935,6 miliar. Selanjutnya, Jalan Tol Solo-Ngawi menghasilkan pendapatan sekitar Rp766,2 miliar, sementara Jalan Tol Jakarta-Bogor-Ciawi atau Jagorawi memberikan kontribusi sekitar Rp607,6 miliar. Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road Seksi Non-S juga mencatatkan pendapatan sekitar Rp599 miliar. Kontribusi dari ruas-ruas tersebut memperlihatkan pentingnya jaringan tol yang memiliki tingkat lalu lintas tinggi dalam menopang kinerja keuangan Jasa Marga.
Di tengah pertumbuhan bisnis inti, Jasa Marga juga menghadapi dinamika pada sejumlah segmen usaha lainnya. Pendapatan konsolidasi perseroan secara keseluruhan dipengaruhi oleh perubahan kontribusi bisnis konstruksi jalan tol yang mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Namun, pelemahan pada segmen tersebut dapat ditahan oleh peningkatan pendapatan dari bisnis konsesi atau operator jalan tol. Kondisi ini menunjukkan semakin pentingnya bisnis inti sebagai penopang profitabilitas perseroan. Strategi penguatan bisnis operasional jalan tol menjadi relevan karena perusahaan memiliki jaringan konsesi yang luas dan terus mengembangkan sejumlah ruas baru.
Hingga Juni 2026, Jasa Marga mengoperasikan sekitar 1.294 kilometer jalan tol dari total konsesi yang mencapai 1.736 kilometer. Besarnya jaringan tersebut memberikan perusahaan posisi strategis dalam ekosistem jalan tol nasional sekaligus membuka peluang pertumbuhan dalam jangka panjang. Pengembangan jaringan juga perlu diikuti dengan pemeliharaan infrastruktur, peningkatan keselamatan, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan pengalaman pengguna jalan. Perseroan terus mendorong pengembangan layanan digital, pengelolaan rest area, dan berbagai inisiatif yang berkaitan dengan keberlanjutan. Langkah tersebut diarahkan agar pertumbuhan bisnis tidak hanya tercermin dalam laporan keuangan, tetapi juga melalui peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Kinerja semester I 2026 menjadi gambaran mengenai kemampuan Jasa Marga menjaga pertumbuhan di tengah kebutuhan investasi infrastruktur yang terus meningkat. Pertumbuhan laba, pendapatan tol, EBITDA, dan volume transaksi menunjukkan bahwa bisnis utama perseroan masih memiliki fundamental yang cukup kuat. Di sisi lain, perusahaan tetap perlu mengelola kebutuhan pembiayaan dan investasi secara hati-hati karena pembangunan jaringan jalan tol membutuhkan modal besar serta memiliki periode pengembalian investasi yang panjang. Optimalisasi ruas yang telah beroperasi menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kesehatan keuangan. Dengan mempertahankan efisiensi serta memperkuat kinerja operasional, perseroan memiliki dasar yang lebih kuat untuk melanjutkan ekspansi jaringan.
Capaian laba Rp1,9 triliun pada semester I 2026 menegaskan bahwa Jasa Marga masih mampu mempertahankan tren pertumbuhan di tengah perkembangan industri jalan tol nasional. Peningkatan pendapatan usaha sebesar 7,6 persen dan EBITDA sebesar 8,1 persen menjadi penopang penting bagi kenaikan laba bersih perseroan. Pertumbuhan volume transaksi juga menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap konektivitas jalan tol terus berkembang seiring aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat. Ke depan, tantangan Jasa Marga tidak hanya mempertahankan profitabilitas, tetapi juga memastikan pengembangan jaringan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas layanan, efisiensi operasional, dan pengelolaan investasi. Dengan kombinasi penguatan bisnis inti dan pengembangan infrastruktur, perseroan diharapkan mampu mempertahankan kinerja positif hingga akhir 2026 sekaligus memperkuat perannya dalam pembangunan konektivitas nasional.





