Kumamoto, 29 Juli 2026 – Kastil Kumamoto, salah satu bangunan bersejarah paling terkenal di Jepang yang berusia lebih dari 400 tahun, kembali mengalami kerusakan setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto di Pulau Kyushu. Gempa kuat yang terjadi pada Selasa, 28 Juli 2026 tersebut menyebabkan kerusakan luas pada bangunan, jalan, fasilitas umum, hingga infrastruktur di sejumlah wilayah. Di kompleks kastil, bagian tembok batu dilaporkan mengalami keruntuhan dan pergeseran, sementara sejumlah bangunan juga terdampak. Kerusakan menjadi perhatian besar karena Kastil Kumamoto merupakan simbol sejarah sekaligus salah satu destinasi wisata penting Jepang. Peristiwa ini juga terjadi ketika proses pemulihan dari kerusakan akibat gempa besar satu dekade sebelumnya belum sepenuhnya selesai.

Kastil Kumamoto memiliki sejarah panjang yang menjadikannya salah satu landmark paling penting di Kyushu. Kompleks kastil dibangun pada awal abad ke-17 dan dikenal dengan struktur pertahanan berupa tembok batu besar, menara, gerbang, serta bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi. Selama berabad-abad, kawasan tersebut mengalami berbagai perubahan akibat konflik, kebakaran, hingga bencana alam. Sebagian bangunan yang terlihat saat ini merupakan hasil rekonstruksi dan restorasi, tetapi kompleksnya tetap mempertahankan banyak unsur bersejarah. Kerusakan akibat gempa terbaru membuat upaya pelestarian kawasan tersebut kembali menghadapi tantangan besar.

Pemeriksaan awal menemukan kerusakan pada banyak bagian tembok batu di kompleks Kastil Kumamoto. Kerusakan yang ditemukan mencakup keruntuhan, pergeseran, hingga bagian tembok yang mengalami perubahan bentuk dan membutuhkan pemeriksaan struktural lebih lanjut. Sejumlah bangunan di dalam kompleks juga dilaporkan mengalami kerusakan. Kondisi tersebut membuat petugas harus melakukan penilaian secara hati-hati karena gempa susulan dapat meningkatkan risiko pada struktur yang telah melemah. Akses ke bagian tertentu dari kawasan juga perlu dikendalikan untuk melindungi pengunjung dan pekerja restorasi.

Kerusakan terbaru terasa semakin berat karena Kastil Kumamoto sebelumnya menjadi salah satu simbol pemulihan setelah gempa besar 2016. Saat itu, gempa menyebabkan tembok batu runtuh, genteng berjatuhan, dan sejumlah struktur bersejarah mengalami kerusakan berat. Proyek restorasi kemudian dilakukan secara bertahap dengan pekerjaan yang sangat kompleks karena setiap batu dan bagian bangunan harus ditangani dengan mempertimbangkan nilai sejarahnya. Beberapa bagian berhasil dipulihkan dan kembali dapat dikunjungi masyarakat. Namun, restorasi keseluruhan membutuhkan waktu panjang sehingga gempa 2026 berpotensi memengaruhi kembali jadwal pekerjaan tersebut.

Pemulihan bangunan bersejarah berbeda dengan perbaikan bangunan modern karena tidak dapat dilakukan hanya dengan mengganti bagian yang rusak menggunakan material baru. Setiap komponen perlu didokumentasikan dan diperiksa untuk menentukan bagaimana struktur dapat dikembalikan tanpa menghilangkan karakter sejarahnya. Pada tembok batu, misalnya, posisi batu dapat menjadi bagian penting dari konstruksi asli sehingga proses pembongkaran dan pemasangan kembali membutuhkan ketelitian tinggi. Para ahli struktur, arkeologi, sejarah, dan konservasi dapat terlibat secara bersamaan dalam proses tersebut. Karena itu, tingkat kerusakan terbaru perlu dipetakan secara menyeluruh sebelum estimasi waktu pemulihan dapat ditentukan.

Gempa M 7,1 tidak hanya berdampak pada Kastil Kumamoto. Sejumlah bangunan di Prefektur Kumamoto mengalami kerusakan, sementara gangguan juga terjadi pada jaringan listrik, transportasi, jalan, serta fasilitas publik. Operasi penyelamatan dilakukan untuk mencari korban di lokasi bangunan yang runtuh dan kawasan terdampak lainnya. Pemerintah mengerahkan petugas darurat dan personel terkait untuk membantu proses pencarian serta penanganan masyarakat. Ancaman gempa susulan dan potensi longsor membuat warga di kawasan terdampak tetap diminta meningkatkan kewaspadaan.

Bagi sektor pariwisata Kumamoto, kondisi kastil menjadi perhatian karena bangunan tersebut merupakan salah satu ikon utama wilayah tersebut. Kastil Kumamoto selama ini menarik wisatawan yang ingin melihat arsitektur pertahanan Jepang sekaligus memahami perjalanan sejarah Kyushu. Kerusakan pada sebagian kompleks dapat memengaruhi akses wisata hingga pemeriksaan keselamatan selesai dilakukan. Namun, keselamatan pengunjung dan perlindungan bangunan menjadi prioritas sebelum kawasan dapat kembali beroperasi secara normal. Evaluasi menyeluruh juga diperlukan agar aktivitas wisata tidak mengganggu proses penyelamatan maupun pemeriksaan struktur.

Gempa dahsyat yang kembali merusak Kastil Kumamoto memperlihatkan besarnya tantangan menjaga warisan budaya berusia ratusan tahun di wilayah dengan aktivitas seismik tinggi. Bangunan yang telah bertahan melewati berbagai periode sejarah kini kembali menghadapi proses pemulihan setelah sebagian kerusakan lama berhasil diperbaiki. Penilaian terhadap tembok batu, menara, dan bangunan lainnya akan menentukan seberapa besar pekerjaan restorasi tambahan yang diperlukan. Di tengah penanganan korban dan kerusakan di berbagai wilayah Kumamoto, keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama. Bagi Jepang, pemulihan Kastil Kumamoto nantinya bukan sekadar memperbaiki objek wisata, tetapi kembali menjaga salah satu bagian penting dari sejarah yang telah bertahan selama lebih dari empat abad.